Alhamdulillah. Sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu gratis akan segera hadir di kilometer 17 Kelurahan Karang Joang kecamatan Balikpapan Utara. Rencananya, pada juli 2012 atau bertepatan dengan tahun ajaran baru, sekolah ini akan beroperasi.
Sekolah ini didirikan dengan semangat untuk mencetak generasi-generasi islami di kawasan tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kawasan kilometer 17 adalah kawasan yang dikenal sebagai tempat prostitusi. Portal, begitu masyarakat sekitar menyebut komplek pelacuran di sana. Meskipun tidak menyatu, namun dampaknya terasa bagi masyarakat luar portal. Baik itu langsung maupun tidak langsung. Dampak terjadi pada berbagai sisi kehidupan ; ekonomi, sosial maupun perkembangan moral anak.
Seperti yang diungkapkan oleh Sarmini (bukan nama sebenarnya). “Pengaruhnya besar sekali, terutama dari segi omongan. Banyak kata-kata jorok. Saya takut sekali kalau anak-anak saya ngomongnya seperti itu. Belum lagi, hal-hal yang lain yang negatif,” tutur ibu berusia 42 tahun.
Pendapat sama juga diungkapkan oleh guru Al Quran School Mierza Siska May Sary. Berdasarkan pengalamannya mengajar selama setahun di tempat tersebut, Memey (sapaan-red) menyebutkan pengaruh tidak hanya dari segi bahasa tetapi juga budaya.
“Perilaku anak-anak cenderung malas. Mereka juga memiliki pandangan keberhasilan masih diukur dari materi. Teman yang hebat adalah teman yang memiliki hape keren, dsb. Tidak hanya anak-anak, orang tua juga memiliki ketergantungan terhadap masyarakat dalam portal. Terutama ekonomi. Ada orang tua yang menjadi tukang ojek, pedagang keliling ataupun pedagang baju di komplek itu,” tuturnya.
Menilik keadaan tersebut, terdapat simbiosis mutualisme diantara mereka. Padahal, bila kita tinjau dari kacamata Islam, terdapat ketidakberkahan rezeki yang mereka dapatkan. Ketika rezeki itu dimakan akan berdampak negatif pada anak-anak mereka. Bagaimana mau mencetak generasi unggul bila kondisi ini terus terjadi ?.
“ Bagi kami, pendidikan menjadi sebuah efektif dalam menjawab persoalan kemiskinan dan krisis moral. Pendidikan itu bagaikan investasi. Yang hasilnya baru bisa dinikmati pada 15 tahun mendatang. Karena pendidikan di kawasan ini bisa dikatakan masih termarjinalkan. Oleh karena itu, kami fokus untuk membangun sekolah yang berbasis karakter Islami. Yang nantinya menghasilkan generasi-generasi Islami yang mampu membangun kawasan tersebut,” papar General Manager DD Kaltim, Abdul Samad.
Berkerjasama dengan Islamic Global School dalam pengembangan kurikulumnya, sekolah ini juga menitikberatkan entrepreneur sehingga diharapkan mampu menghasilkan generasi yang mandiri. Rencananya, gedung sekolah akan menggunakan bangunan Al Quran School.
Bersamaan program pembangunan sekolah, DD Kaltim juga telah mengembangkan program ekonomi di kawasan itu. Yakni program kemandirian usaha rumah tangga. Sebuah program usaha yang ditujukan kepada ibu-ibu rumah tangga. Yang nantinya berdampak pada peningkatan kesejahteraan mereka.
“Program ini bernama Pemberdayaan Ibu-Ibu untuk Panganan Sehat. Sehingga dapat mendorong perekonomian warga sekitar. Saat ini, proses telah mencapai latihan wajib kelompok. Yang berisi tentang motivasi, disiplin kelompok maupun pembiayaan, peraturan dari program, perencanaan usaha,” jelas Supervisor Divisi Pemberdayaan Ekonomi Anita Sulistyorini.
Jumlah yang dibina sebanyak 11 ibu rumah tangga. Mereka dinilai layak mengikuti program ini setelah melalui berbagai rangkaian tahapan seleksi. Jumlah awal calon peserta dari program ini mencapai 54 orang. DD Kaltim berharap kelompok tersebut dapat menjadi cikal bakal tumbuhnya kelompok-kelompok usaha lainnya.
“Diharapkan dua program ini menjadi lokomotif pemberdayaan masyarakat kilometer 17. Kami optimis usaha kami akan terus berjalan sehingga warga di kawasan kilometer 17 ini dapat mandiri,” ujar Samad. (ely)
Petikan :
Bagi kami, pendidikan menjadi sebuah efektif dalam menjawab persoalan kemiskinan dan krisis moral. Pendidikan itu bagaikan investasi. Yang hasilnya baru bisa dinikmati pada 15 tahun mendatang.



