Tantangan Lembaga Pendidikan Islam
Oleh
Sugianto
Kalau saat ini kita ditanya , lembaga pendidikan Islam sedikit apa banyak ? InsyaAllah kita sepakat menjawab” banyak” bahkan sekolah-sekolah Islam kini sedang tumbuh bak jamur di musim hujan. Sekolah-sekolah setingkat Playgroup / TK Islam, SDIT, SMPIT, SMAIT tumbuh dengan subur dan sedang diminati masyarakat.
Hal ini sangat wajar, karena masyarakat sudah mulai gelisah dengan sekolah-sekolah sekuler yang hasil lulusannya mulai diragukan orang tua siswa. Selain hasil akademik yang memprihatinkan, nilai-nilai moral, pergaulan bebas, obat terlarang, pornografi, hedonisme sudah menjadi tren anak sekolah saat ini.
Kondisi seperti di atas bagi sekolah-sekolah Islam merupakan sebuah peluang dan sekaligus tantangan. Menjadi peluang karena sekolah-sekolah Islam akan kebanjiran siswa , sebaliknya bisa menjadi tantangan karena tidak semua sekolah Islam mampu memenuhi harapan orang tua yang sudah mengamanahkan anaknya kepada sekolah Islam dengan harapan menjadi anak sholeh/sholihah sukses dunia akherat.
Kalau boleh jujur, harapan orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah Islam saat ini masih banyak yang belum terwujud. Contoh sederhana, anak-anak muslim masih makan sambil berjalan, sholatnya belum berjamaah ketika di luar sekolah dan masih banyak lagi ahklaq yang belum mencerminkan sebagai seorang muslim. Jadi apa yang salah…?
Mari kita cermati berbagai masalah yang menyebabkan tidak maksimalnya hasil pendidikan dari lembaga-lembaga pendidikan Islam baik dari faktor internal maupun eksternal.
Faktor Internal
- 1. Pengelola tidak memahami tujuan didirikannya sekolah.
Banyak sekolah didirikan hanya karena ikut-ikutan, tidak memiliki tujuan yang jelas. Sekolah seperti ini tentunya berbahaya karena nantinya dalam mengelola sekolah juga tidak jelas arah dan metodenya.
Sekolah sebagai agen perubahan/perbaikan, harus memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai arah perubahan menuju generasi yang lebih baik. Kaidah dalam memperbaiki sesuatu adalah ;
- Tahu standart baku kebaikan dan keburukan sesuai syar’i.
- Tahu fakta/kondisi yang akan diperbaiki.
- Tahu penyebab kerusakan yang akan diperbaiki.
- Tahu cara memperbaiki kondisi secara tuntas dan menyeluruh.
- 2. tidak memiliki visi yang syar’i dan hakiki.
Banyak sekolah Islam terjebak pada visi yang kelihatan keren namun sebenarnya tidak menyentuh aspek fundamental dan hakiki. Semisal, “ Menjadi sekolah terbaik di tingkat nasional maupun internasional “. Karena visi tersebut lebih disandarkan pada ukuran materi (angka), maka manajemen sekolah biasanya sibuk ikut lomba ini dan itu. Parahnya lagi, banyak sekolah Islam menganggap sekolah Islam lainnya sebagai pesaing, yang semestinya diperlakukan sebagai mitra dakwah.
Maka dari itu seharusnya visi semua sekolah Islam cukup satu saja, yaitu visi yang telah ditetapkan oleh Allah pencipta alam semesta, seperti dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Dzariyat (51)-56 “..dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.”
Apabila semua sekolah Islam berlandaskan pada visi penciptaan manusia ini, semua sekolah arahnya sudah jelas, apapun kebijakan sekolah, apapun materi yang diberikan kepada siswa harus berdampak pada pemahaman dan peningkatan ketaqwaan kepada Allah SWT.
- 3. Tidak menerapkan standar Ahklaq dan kebaikan yang baku.
Standar baik-buruk yang diterapkan sekolah saat ini kadang masih kabur, tidak jelas dan kondisional, karena landasannya bukan dari Allah, melainkan dari para pakar yang kadang hanya mengandalkan pemikirannya saja.
Padahal Allah telah memberikan standar baku tentang kepribadian yang harus diajarkan kepada anak seperti dalam firmanNya “ Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu “(Qs. Al-Ahzab (33) – 21.
Kalau Allah sudah menjamin bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah suri teladan yang baik, kita tinggal menjiplak (copy paste) kepribadian Rasulullah yang ada dalam riwayat, hadits dan Sirah Nabawi.
Nah, memang jadi sangat aneh apabila banyak sekolah Islam yang katanya ingin mencontoh pribadi Rasulullah, tetapi menjadikan sirah Nabi hanya sekedar pemanis, tidak dipelajari secara mendalam dan menyeluruh. Sirah Nabi disampaikan kepada anak hanya dalam peringatan Isro’ Mi’raj dan Maulid Nabi, dengan kisah itu-itu saja. Padahal Rasulullah memiliki peran multidimensional. Sebagai ayah, pendakwah, pedagang, pendidik, pribadi mulia, negarawan, pencinta ilmu, pemimpin militer, hakim, pejuang kemanusiaan. (bersambung)
Kutipan :
masyarakat sudah mulai gelisah dengan sekolah-sekolah sekuler yang hasil lulusannya mulai diragukan orang tua siswa. Selain hasil akademik yang memprihatinkan, nilai-nilai moral, pergaulan bebas, obat terlarang, pornografi, hedonisme sudah menjadi tren anak sekolah saat ini
Allah telah memberikan standar baku tentang kepribadian yang harus diajarkan kepada anak seperti dalam firmanNya “ Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu “(Qs. Al-Ahzab (33) – 21.
Profil Penulis
Penulis merupakan praktisi pendidikan di Kota Balikpapan. Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Yayasan Nurul Asmi, yang menaungi Sekolah Dasar Islam Terpadu Islamic Global School( IGS) dan Taman Kanak-Kanak Islam Islamic Global School di kawasan Straat tiga Kampung Timur Balikpapan. Beliau juga aktif dalam Forum Komunikasi Pendidikan Islam (FKPI), sebuah program yang bertujuan meningkatkan kualitas SDM guru-guru di Kalimantan Timur.



