Menghamparkan Padi di Tarakan

  • PDF

“Padi tidak bisa ditanam di Tarakan. Disini tanahnya tidak bisa untuk padi,” begitu ucap pegawai dinas pertanian Kota Tarakan saat itu, ketika mendengar ide Syarifuddin (34) untuk menanam padi di kawasan Mamburungan, Tarakan Timur, Kalimantan Timur.

Pendapat pegawai pertanian itu berdasar kondisi tanah Tarakan yang mengandung pasir, tanah liat dan batu bara. Menjadikan menanam padi sebagai mission impossible bagi para petani yang berada kota yang berada di utara Kalimantan Timur.

Ucapan itu bukannya memadamkan semangat syarif, sapaan-red, malah melecutkan nyalinya. Dengan tangan dinginnya, Syarif berhasil menunaikan misi itu. Bahkan, setiap tiga bulan, ia berhasil mengantongi sedikitnya delapan juta rupiah.

Uang itu didapatnya dari hasil penjualan padi organik yang ditanamnya di lahan kebun miliknya. Harga padi organik yang dipasarkan di kawasan Tarakan itu menggiurkan. Bila beras biasa dijual Rp. 6.000,-/kg maka harga  jual beras organik di pasaran mencapai Rp.13.000,-/kg. Dengan biaya produksi yang jauh lebih murah ketimbang biaya produksi yang menggunakan sistem penanaman padi konvensional yang menggunakan pestisida dan bahan kimia lainnya. Penanaman padi organik juga menghasilkan produksi dua kali lipat dari sistem penanaman padi konvensional.

Untuk sawah luasan ¼ hektar dibutuhkan modal 1,5 juta rupiah untuk sistem penanaman padi konvensional dengan hasil padi seberat 2,5 kwintal. Sementara, padi organik yang hanya membutuhkan biaya produksi sekitar 100 ribu rupiah mampu menghasilkan 5,5 kwintal.

Tidak hanya nilai tambah dari hasil produksi, penanaman padi organik ini menjadikan Syarif dan kawan-kawannya menjadi “dosen” bagi mahasiswa dan petani dari Kabupaten Tana Tidung, Malinau dan petani lainnya di Kalimantan Timur yang datang belajar.

Perjuangan Keras

Menanam  padi di kawasan Tarakan tidaklah semudah menanam padi di daerah-daerah lain yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Di Tarakan, dengan sifat tanah serta kontur tanah yang berbukit-bukit menjadikan lahan tersebut sulit untuk diolah.

Syarifuddin memulai menanam padi di lahan kebun miliknya pada awal  tahun 2007. Dengan luasan lahan ¼ hektar, ia jadikan kebunnya menjadi laboratorium hidup.

Memulai menanam padi bukanlah hal yang mudah, ia jatuh bangun terus belajar menanam padi. Berkat ketekunannya, padi yang ditanamnya mulai membuahkan hasil.  Cemoohan-cemoohan yang diterima sebelumnya, menjadi pujian

Akhirnya, melihat usaha Syarif itu, kawan-kawannya pun berminat untuk menanam padi pun membentuk wadah kelompok Tani Mapan Sejahtera. Dengan jumlahanggota delapan orang.  Sayangnya, usaha mereka terkendala dengan pasokan pupuk yang langka dan  harga pupuk yang mahal. Karena Tarakan adalah sebuah pulau, sehingga pasokan barang bergantung pada kapal yang seringkali terkendala akan cuaca buruk.

Melihat kondisi ini, Syarif dan kelompok tani meminta bantuan kepada lembaga yang berwenang untuk memecahkan persoalan mereka,  sayangnya, masih belum mendapat respon.

“Kemudian saya mendatangi perusahaan Medco Energy untuk meminta tolong. Saya tegaskan kami tidak meminta uang, tetapi tolonglah kami untuk memecahkan masalah ini,”tutur Syarif saat ditemui dikediamannya pada kamis (6/8) lalu. Tak disangka Medco memfasilitasi Syarif dan kawan-kawannya dengan mendatangkan penyuluh pertanian yang mengenalkan menanam padi dengan sistem organik. Yakni menanam padi dengan menggunakan bahan-alami sebagai pengganti pupuk maupun pestisida.

Mendapatkan pencerahan, Syarifpun banting setir menanam padi organik. Tapi lagi-lagi, sistem ini tidak direspon oleh petani lainnya karena proses yang panjang. Tapi, ia tak putus asa. Ia terus mengkampanyekan gerakan menanam padi organik. Gotong royong, pertemuan antar petani menjadi  momen bagi Syarif untuk mengajak petani beralih ke padi organik.

Tidak sia-sia usaha syarif, kini petani di mamburungan pun sudah menerapkan penanaman sistem organik. Tidak terbatas padi,  sayuran palawija pun ditanam sistem organik. Hasilnya jauh memuaskan.  Petani mamburungan Badaruddin, misalnya. Ia mendapatkan delapan juta rupiah dari hasil menanam cabe dengan ongkos produksi sekitar 500 ribu rupiah. Sementara, petani lainnya Amir yang menanam timun mengatakan ia hanya memerlukan modal 200 ribu rupiah dengan hasil jual mencapai 2 juta rupiah.

Kebermanfaatan sistem organik tidak sekedar pada nilai tambah produksi tetapi juga kesadaran menjaga lingkungan. Mereka menyadari bahwa lingkungan memberikan andil yang besar dalam proses penanaman. Pemanfaatan tanahpun tidak serta merta untuk pertanian. Terdapat ruang hijau di area persawahan.  Sehingga lingkungan hijaupun terjaga.

Kendala yang dihadapi adalah lahan tersebut bukan milik pribadi. Pada umumnya mereka mengerjakan lahan tidur milik orang lain. Mereka juga masih kesulitan dengan penggilingan padi. Karena di Tarakan, baru satu mesin penggilingan padi sehingga mereka harus mengantri lama dan hasil dari mesin penggilingan masih jauh dari yang diharapkan.

Meskipun demikian, semangat Syarifuddin tidak lah pupus. Sebagai petani, ia tahu untuk mengubah keadaan adalah dengan kerja keras dan ketekunan. “ Suang bagas bergambus, kramat bagis bedayung (Banyak beras tersenang, habis berdayung). Jangan sampai kita ini terlena karena merasa hasil sekarang sudah cukup kemudian kita bersenang-senang. Setelah beras habis, baru kita berkerja lagi. Saya ingin terus belajar dan berkerja,”jelasnya.

Ia ingin mewujudkan impiannya agar Tarakan mampu menjadi sentra pertanian yang nantinya bisa menjadi pegangan hidup masyarakat Tarakan takala hasil pertambangan tak lagi dapat diandalkan. (ely)

Last Updated on Thursday, 12 January 2012 01:50