
Sejak tahun 2005, tercatat sekitar 100 majelis taklim. Sayangnya, mereka memang kesulitan mencari Da’i untuk memberikan pembelajaran agama.
Hongkong menjadi negara favorit bagi tenaga kerja wanita (TKW) kita. Ia menjadi primadona bagi TKW disebabkan aturan negara itu dinilai melindungi para tenaga kerja. Seperti peraturan yang mengharuskan para TKW mendapat satu hari libur dalam sepekan, kontrak kerja yang jelas.
Ditengah kenyamanan tersebut, ternyata TKW kita rentan menjadi korban kekerasan, penipuan yang dilakukan oleh lembaga ataupun orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Meskipun demikian, para TKW kita memiliki semangat untuk tetap menghidupkan nilai-nilai agama Islam meski berada di negara non muslim.
Agar semangat Islam itu tetap menyala, Dompet Dhuafa Kalimantan Timur (DD Kaltim) mengirimkan para dai asal Kaltim untuk berdakwah di Hongkong. Berkerjasama dengan Dompet Dhuafa Hongkong, mengirimkan dua dai dalam program “ Indonesia Tersenyum”.
Program ini dimulai pada bulan Juli lalu. Dai yang pertama berangkat ke Hongkong adalah Ustadz Iwan Abdullah. Kunjungan ke negara itu hampir satu bulan lamanya. Disana, ia mengunjungi puluhan majelis taklim yang dimotori oleh para TKW.

“Suatu kejutan, disana para TKW kita memiliki banyak majelis taklim. Sejak tahun 2005, tercatat sekitar 100 majelis taklim. Sayangnya, mereka memang kesulitan mencari dai untuk memberikan pembelajaran agama. Kalaupun ada, sifatnya lebih pada tabligh akbar. Bukan ke komunitas-komunitas taklim. Sehingga program yang kita jalankan ini disambut hangat oleh para TKW kita, ”kata Ustad Iwan Abdullah yang ditemui pada hari Kamis (18/8) lalu.
Yang sangat mengesankan dalam kunjungannya adalah semangat TKW untuk mengikuti taklim sangat tinggi. Setiap diadakan taklim, hampir 100 orang yang mengikuti kegiatan tersebut.
“Bahkan mereka rela untuk terjaga pada malam hari untuk mendengarkan tausiyah. Jadi melalui tausiyah online melalui telepon, mereka berkumpul pukul 11 hingga pukul 2 dinihari untuk tanya jawab. Padahal mereka telah berkerja seharian. Subhanallah, semangat belajar mereka luar biasa. Yang justru kita tidak dapatkan di tanah air,” papar Ustadz Iwan.
Bahkan hingga kepulangan ke Indonesia, Ustadz Iwan masih melakukan taklim secara online kepada beberapa majelis taklim disana. Kendati demikian, Ustadz Iwan mengaku prihatin dengan persoalan yang dihadapi oleh para TKW disana.
“ Persoalan yang dihadapi adalah gaji yang diterima TKW kita masih dibawah standar yang ditetapkan oleh pemerintah Hongkong. Rendahnya gaji ini bukan disebabkan oleh majikan melainkan agen-agen atau perusahaan Indonesia yang menyalurkan mereka yang menjadi penyebabnya. Dimana para TKW itu harus menyetor gaji mereka ke agennya selama tujuh bulan untuk mengganti biaya yang dikeluarkan. Ironisnya, setelah tujuh bulan itu para agen menghubungi majikan mereka dan membujuk majikan untuk mengganti tenaga kerja yang baru. Otomatis, para TKW itu mulai dari nol lagi dan harus membayar ke agennya lagi. Selain itu, para TKW kita juga dipaksa untuk menandatangani kontrak kerja di luar kontrak resmi. Padahal pemerintah Hongkong sangat jelas melarang adanya pekerjaan di luar kontrak. Ternyata persoalan kita lebih disebabkan oleh agen-agen atau perusahaan yang menyalurkan. Sedihnya, perusahaan-perusahaan ini dari Indonesia,” papar Ustadz Iwan panjang lebar.
Ustadz Iwan berharap kondisi dan semangat para TKW untuk tetap semangat belajar. Baik bidang agama atau pengetahuan dan keterampilan. Sehingga para TKW dapat merubah harkat kehidupan. Ia juga berharap agar pemerintah segera memberikan perlindungan hukum kepada TKW dan memberikan sanksi kepada agen atau perusahaan yang 'nakal'.
Dengan adanya pengiriman dai ke luar negeri selain dapat meningkatkan wawasan dai-dai lokal terhadap permas.



